old birru shafa
Tuesday, June 13, 2006
Kita Memang Berbeda, Cinta
Saya mengerutkan kening sambil tersenyum. "Lucu? Lucu apanya sayang?"
"Orangnya bertolak belakang! He he he...."
Saya tersentak sesaat. Faiz, anak kami yang belum berusia 10 tahun dan suka
menulis puisi, "membaca" kami sedalam itu.
Saya manggut-manggut. "Hmmm, lalu apanya yang salah?"
Dia mengerling menggoda. "Tidak ada. Ayah Bunda pasangan yang unik!"
Saya dekatkan wajah saya pada Faiz dan menyentuh lembut hidungnya.
"Aku mencatat beberapa contoh. Bunda suka durian, ayah anti durian.
Bunda periang, ayah pendiam. Bunda humoris, ayah sangat serius.
Hmmm, apalagi ya? Ayah menganalisa, bunda sensitif. Ayah itu detail,
bunda tidak. Ayah dan bunda memandang persoalan dengan cara berbeda.
Menyelesaikan persoalan dengan berbeda pula!"
Saya bengong.
"Bunda romantis tapi ayah tidak. Kalau aku romantis!" katanya setengah
berbisik, lalu tertawa.
Saya tambah bengong! Tahu apa anak itu tentang romantisme?
Faiz terus nyerocos. Ia pun bercerita, tentang percakapan disekolah
dengan teman-temannya. Anak-anak SD Kelas IV itu ternyata sudah berpikir, kelak
kalau menikah harus mencari pasangan yang sifatnya sama! "Kalau tidak
nanti bisa cerai!"
What? Saya garuk-garuk kepala.
"Aku saja yang tidak begitu setuju, Bunda. Aku bilang pada teman-teman,
justru karena ayah bunda berbeda, jadinya malah asyik lho!"
Saya geleng-geleng kepala lagi, sambil mengulum senyum. Ah, tahukah
para orangtua mereka bahwa anak-anak mereka kadang tahu lebih banyak dari
yang kita pikir?
Tak lama Faiz sudah asyik dengan bacaannya di kamar. Di ruang kerja
saya, tiba-tiba wajah beberapa teman lama melintas.
A memilih bercerai karena setelah menikah 10 tahun dan punya 2 anak
kemudian merasa ia dan suami sama sekali tak cocok!
B menjalani kehidupan rumah tangganya dengan perasaan hampa karena tak
kunjung merasa cocok dengan suaminya, setelah menikah belasan tahun.
C selalu berkomunikasi dengan suaminya tentang berbagai hal, tapi
terpaksa cekcok hampir setiap hari karena tak kunjung sampai pada sesuatu
bernama kesamaan.
D tak lagi peduli pada indahnya jalan pernikahan dan sekadar menjaga
keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat.
Di antara mereka ada yang seperti saya, menikah karena dijodohkan
sahabat atau ustadz. Ada pula yang menikah setelah melalui pacaran lebih dahulu
bertahun-tahun. Dan atas nama "ketidakcocokan" itulah yang terjadi.
Saya akui, pengamatan Faiz jeli. Saya dan Mas Tomi memang sangat
berbeda.
Sebelas tahun kami bersama dan berupaya mencari titik temu. Tak selalu
berhasil. "We are the odd couple!" kelakar kami.
Tapi alhamdulillah, di tengah-tengah segala perbedaan itu, kami
berusaha untuk tak berhenti berkomunikasi. Saya mencoba memilih waktu yang
tepat, yang menyenangkan untuk bicara berdua. Begitu juga Mas.
Kami membicarakan perbedaan kami di saat dan di tempat yang nyaman dan
menyenangkan.
Kadang tak semua perlu dibicarakan. Mas menunjukkan dengan sikap apa
yang ia inginkan dari saya. Kadang saat saya lelah, tanpa harus terucap kata
"saya capek," Mas memijat pundak dan punggung saya. Saya tahu, saya
menangkap, Mas akan senang kalau saya perlakukan demikian pula. Saya selalu memberi
kejutan di saat milad, ulang tahun pernikahan, di saat ia meraih kesuksesan
atau kapan saja saya mau. Mas menyadari, itu artinya saya pun ingin
diperhatikan demikian. Ia mencoba, meski sebelumnya tak ada tradisi itu di keluarga Mas.
Saya membuatkannya puisi saat Mas kerap memberi saya data statistik
keuangan kami. Mas tahu, saya ingin sesekali diberi puisi sederhana tentang cinta.
Saya pun menyadari, Mas ingin saya bisa mencatat semua pemasukan dan
pengeluaran rumah tangga dengan rapi. Mas suka makanan tertentu.
Dan meski tak suka, saya coba memasaknya. Saya membelikan Mas pakaian
yang sedikit modis. Mas nyengir, tapi ia coba memakainya.
Berupaya untuk memahami dan mengecilkan perbedaan menjadi indah, ketika
itu dilakukan dengan senyum dan ketulusan, bukan karena tuntutan atau
paksaan terhadap pasangan. Dan kalau dengan berubah kita lantas menjadi lebih
baik, kalau berubah itu dalam rangka ibadah, dalam rangka membuat pasangan
kita bahagia, mengapa tidak? Kalaupun pasangan kita tidak juga berubah dari
karakter semula setelah bertahun-tahun, mengapa kita tak melihat hal itu
sebagai keunikan yang makin membuat kita "kaya"?
Di atas itu semua, sebenarnya semua perbedaan bisa saja seolah lebur
saat suami istri menyadari persamaan utama mereka, yaitu keinginan menjadi
abdi illahi sejati! Cinta karena dan untukNya, menjadikan sifat dan karakter
yang paling berbeda sekalipun, bersimpuh atas namaNya. Perbedaan justru
menjadi masalah serius ketika masing-masing pribadi memang tidak menempatkan
ridho Allah sebagai tujuan utama dalam biduk rumah tangga mereka.
Di luar, hujan mulai reda. Sayup-sayup saya dengar suara Faiz di
telpon.Rupanya ia sedang bercakap dengan salah satu temannya.
"Apa? Ayah bundamu bertengkar? Sudah, jangan menangis. Cinta yang besar
kepada Allah, akan selalu menyatukan mereka!"
Saya nyengir. Sejak kapan anak itu menjadi konsultan ya?
Pena Kecil Helvy Tiana Rosa
sumber : millis format
Monday, May 22, 2006
Do’a dikala ragu akan dirinya…:)
Bagi yang sedang bimbang oleh sang kekasih, nih ada do’a yang bagus untuk diamalkan. Selamat Mengamalkan ya….:)
Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…
…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya
Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….
Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh
Amin… Ya Rabbal ‘Alamin
sumber : dudung.net
birru
Vaksin Anti Persoalan Hidup
Alloh Al-Kholiq telah menciptakan manusia dalam keadaan yang sempurna (At Tiin-4) dan seimbang (Al-infithaar). Sistim tubuh kita juga telah diatur Alloh sedemikian rupa sehingga segalanya berada dalam keteraturan. Subhanalloh ! Untuk menjaga keseimbangan sistim dalam tubuh, Alloh juga telah melengkapi tubuh manusia dengan bermacam-macam antibodi yang berfungsi sebagai “tameng Bila ada racun atau “virus pengganggu yang merusak keseimbangan sistim tubuh maka “tamengtersebut langsung “berjihaduntuk melindungi tubuh dari serangan musuh. Allohu Akbar !
Namun ada kalanya, antibodi tersebut menjadi lemah dalam menangkal “virus pengganggu Hal tersebut dapat disebabkan kurangnya “maintenancesi empunya tubuh.Untuk membantu antibodi memulihkan kondisinya maka diperlukan “vaksinyang diinjeksikan ke dalam tubuh untuk membantu antibodi dalam melaksanakan tugasnya.
Demikian halnya dengan persoalan hidup yang dapat disamakan sebagai virus pengganggu Bila virus influenza mengganggu sistim tubuh maka virus persoalan hidup akan mengganggu sistim jiwa manusia.
Kegelisahan, keresahan, kesedihan, putus asa, pesimis adalah jenis-jenis “virus penggangguyang sering muncul. Bila “maintenanceterhadap jiwa kurang optimal maka “antibody jiwaakan mulai melemah dalam “menangkalpersoalan-persoalan yang dihadapi.
Jenis-jenis “vaksinyang kudu disiapkan untuk diinjeksikan dalam jiwa untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup adalah :
1. Syukur & Sabar
Bila mendapat nikmat maka bersyukur dan bila mendapat ujian maka bersabar dan keduanya adalah kebaikan.
Hitunglah nikmat-nikmat yang telah diperoleh selama ini dan bandingkan dengan masalah yang dihadapi. Pasti jumlahnya akan terpaut jauh. Bersyukurlah kepada Alloh.
Sabar dalam menghadapi masalah-masalah yang ada pasti lahir karena adanya keyakinan bahwa Alloh lah satu-satunya yang berkehendak atas ujian-ujian yang diberikan terhadap kita dan Alloh jualah yang akan memberikan jalan keluarnya. Hanya kepada Alloh lah kembali segala urusan dan hanya Alloh lah yang Maha Mengetahu apa yang terbaik buat hamba-hambaNya.
2. Do’a, Ikhtiar & Tawakal
Do’a adalah senjatanya orang mukmin yang disempurnakan dengan ikhtiar. Dengan do’a kita memohon kepada Alloh agar Dia menganugerahkan keteguhan atau ke istiqomahan kita dalam kesabaran. Setelah ikhtiar yang sungguh-sungguh, hasil ikhtiar kita sepenuhnya diserahkan kepada Alloh. Fa’idza ‘azamta fa tawakkal ‘alallooh.
3. Evaluasi diri & optimis
Jangan lupa, setelah sabar & tawakal, do’a & ikhtiar telah dilaksanakan maka evaluasi kembali diri. Bisa jadi karena kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan maka Alloh memberi ujian-ujian yang menjadi peringatan bagi kita. Optimislah bahwa semua masalah-masalah yang ada pasti hikmahnya dan bila itu akibat kesalahan-kesalahan kita maka yakinlah bahwa Alloh akan mengampuni dan memaafkan dosa dan kesalahan-kesalahan kita karena Dia Al ‘afuwwunGhofuur.
Untuk mengefektifkan fungsi “vaksinmaka pemakaiannya kudu tertib dan teratur.
Yakinlah sahabat, bila vaksinnya telah berfungsi maka virus persoalan hidup apapun yang datang, akan dapat dihadapi dengan jiwa yang bersih dan bebas dari persangkaan buruk (su’udzhon) terhadap Alloh.
InsyaAlloh.
Wallohu a’lam bis showwab..
Robbishrohli sodrii wayassirli amrii..amiin ya robbal ‘alamiin. (Ya Robbku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah segala urusanku).
sumber : dudung.net
Thursday, May 11, 2006
Falsafah Gerak
Alhamdulillah, saya berkesempatan membaca buku “Membudayakan Etos Kerja Muslim” karya KH Toto Tasmara, walaupun cuma pinjam dari teman:) . Buku ini banyak menginspirasi agar kita memiliki semangat untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungan kita dengan memegang motto “bekerja itu ibadah, berprestasi itu indah”. Salah satunya adalah penjelasan tentang falsafah gerak.
“Bergeraklah kamu, karena diam bisa mematikan.”
Sebagai pertanda bahwa kita masih hidup adalah jantung kita yang terus bergerak, jantung terus bekerja mengalirkan darah ke seluruh tubuh kita. Seperti itulah seharusnya kita hidup di dunia, terus bergerak, terus bekerja mengarungi setiap penjuru di sepanjang rentang hidup kita. Ketika kita berhenti bergerak, maka saat itulah kita justru membunuh diri kita sendiri, ketika otak tidak diajak berfikir, maka ia akan tumpul dan tidak mampu lagi menghasilkan ide-ide cemerlang. Ketika otot dan sendi-sendi kita tidak bergerak, maka sendi akan jadi kaku, otot akan mengecil dan akhirnya tubuh kita menjadi susah digerakkan. Ketika kita dalam kondisi seperti itu, dimana otak tidak mau diajak berfikir dan tubuh tidak mau digerakkan, maka sama saja kita “mati”, walaupun jantung masih berdetak, tapi kita telah mati dalam hidup. Jadi gerak itulah yang menjadikan hidup kita menjadi bermakna.
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi, dan carilah karunia Allah…” (QS Al Jumu’ah:10)
Sebagai seorang muslim, kita tidak terpenjara dalam ibadah ritual saja. Tapi ayat tadi menginspirasi kita untuk mampu mengambil makna dari setiap ibadah yang kita lakukan. Puncak dari rukun Islam adalah haji, Dalam berhaji terdapat berbagai makna yang seharusnya menjadi motivasi besar kita untuk menjadi pribadi yang tehormat dan beretos kerja tinggi.
Diawali dengan ihram, seakan-akan menggambarkan bahwa kita akan melakukan simulasi kematian. Nurani kita diingatkan bahwa hidup kita tidak lain mengarah pada kematian. Setelah menyadari hakikat kematian, kemudian bergeraklah mengarungi seluruh penjuru dunia.
Thawaf, mengelilingi kabah berbentuk segi empat, diawali dari garis coklat yang sejajar batu hitam, bergerak melawan jaruh jam sebanyak tujuh kali. Mengapa kita mengelilingi kabah yang berbentuk segi empat, bukan segi tiga? Kita diingatkan agar mengarungi seluruh penjuru mata angin, betapa dunia ini global, tidak sempit, di dalamnya ada berbagai hikmah yang bisa kita raih. Bahwa hidup penuh dengan warna-warni (plural). Ingatlah putaran kita harus tujuh putaran, karena satu pekan itu ada tujuh hari, dan kita bergerak melawan jarum jam berarti kita harus terus bergerak menghadapi setiap tantangan yang ada. Bahwa hidup adalah perjuangan, adanya ujian justru akan menguatkan kita. Ketika thawaf diawali dari garis coklat, maka dalam hidup, ketika kita bergerak diawali dari pintu rumah kita, terus bergerak mengelilingi karunia Allah, menebarkan prestasi, sampai ketika senja menjelang kita sampai di rumah untuk mengulang perjalanan di esok selanjutnya lagi.
Setelah thawaf, kemudian diteruskan dengan sa’i yang berarti ikhtiar (yaitu memilih yang terbaik). Mengawali ikhtiar dengan hati yang bersih dan suci (shafa) untuk meraih cita-cita dan mewujudkan harapan jadi pribadi mulia dan terhormat (marwah).
Setelah keinginan kita tercapai, maka kita bersegera untuk wukuf (berhenti), untuk melakukan kontemplasi/perenungan sehingga kita tidak menjadi takabur. Jangan terus-menerus bergerak, tapi sekali waktu kita perlu berhenti sejenak, menambatkan batin di terminal Ilahi, tafakur! Tangkaplah bayangan diri kita, bercerminlah di atas kolam yang tenang, muhasabah atas perjalanan yang telah kita lakukan. Jadikan shalat kita sebagai pelabuhan hati, berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Dan wukuf harus di Arafah! Perhentian kita harus di Padang Arafah (arafah berarti mengenal diri). Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, barangsiapa mengenal dirinya niscaya dia mengenal RabbNya. Haji disebut sah ketika sudah wukuf di Arafah, memberi simbol bahwa seseorang yang mengenal diri (‘arafa) kemudian ditindaklanjuti dengan hanya berpihak pada kebenaran (ma’ruf) sehingga dirinya menjadi seorang yang arif!
Haji yang mabrur. Mabrur berasal dari kata al-birru yang berarti kebenaran. Maka haji mabrur adalah haji yang selalu berpihak pada kebenaran.
sumber : http://niex-klaten.blogspot.com/
birru
Monday, May 1, 2006
Wanita Sempurna
Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi disebuah kafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
‘Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?’ ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang. ‘Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu di Bandung, saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir ini adalah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata di masa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ.
‘Di Jakarta, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.
‘Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar,baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.’
‘Lantas,’ sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan, ‘Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?’
Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening. Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab, ‘Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.birru
Aku, sang median
Aku merasa terkadang dilahirkan dengan segala sesuatu yang biasa saja. Ibarat berada di titik nol dalam sebuah garis ordinat. Tidak minus, tidak pula plus. Hanya satu hal yang plus banget, alias kelebihanku yang sangat kubanggakan. Aku cerdas. Smart. Hehe..
Oke, kita rinci satu-satu. Wajah, biasa. Aku sudah test case untuk yang ini. Ketika ada satu orang yang bilang aku biasa atau jelek, maka ada satu orang lain yang bilang, "Duh dek.., manis amat?" Yah, walaupun entah ada unsur sinisme atau tidak.
Prestasi, biasa. Ternyata untuk yang ini aku menyetujui orang yang berpendapat bahwa IQ tidak menjamin prestasi seseorang. Akulah buktinya. Hiks.. Trus apalagi ya? Yah, pokoknya secara keseluruhan aku biasa banget.
Tapi lama-lama aku merasa beruntung dengan kondisiku yang biasa-biasa begini. Setidaknya, aku jadi bisa tau isi hati dan pikiran seseorang. Apakah orang itu tulus atau munafik.
Seperti misalnya ketika seseorang tidak menyapaku tetapi kemudian orang itu menyapa seorang gadis yang pastinya lebih cantik dari diriku. Terkadang ada orang yang walaupun sudah mengenalku, tapi ketika bertemu dia tidak berekspresi sewajarnya teman lama. Berbeda dengan ketika dia bertemu dengan gadis cantik yang baru dikenalnya. Well, orang itu munafik.
Atau ketika ada seseorang yang menawarkan bantuan. Aku bisa mengetahui apakah orang itu tulus atau tidak dengan membandingkan ketika orang tersebut memberikan bantuan. Aku punya seorang teman. Hal ini sudah terbukti (ga tau ya kalau ternyata aku salah tarik kesimpulan). Dia cenderung untuk hanya membantu gadis-gadis yang cantik saja. Ada pengalamanku. Ketika aku dan seorang gadis (aku tidak kenal namanya) meminta tolong kepada temanku itu,dia langsung mengabaikan aku dan melayani si gadis dengan sungguh-sungguh dan dengan ekspresi yang meyakinkan. Aku hanya dapat berkata dalam hati, "Alright, gotcha!" dan untuk kemudian aku segan untuk menganggapnya temanku lagi.
Mungkin aku hanya ingin membesarkan hatiku untuk menerima kenyataan yang pahit (hiks.. ga begitu-begitu amat, sih). Tapi at least aku jadi bisa lebih mudah menilai seseorang, lebih bisa mudah menangkap isi pikirannya yang sesungguhnya. Kemudian, jadi bisa lebih berhati-hati ketika jenis-jenis orang yang kuceritakan tadi tiba-tiba jadi baiiikk sekali terhadapku. Pasti ada apa-apanya, kan?
Kesombongan
Sore, tanggal 29 April 2006. Aku dan Asti, adikku, sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-18. Kita berdua memilih makan di pizza hut cinere. Irit ongkos, irit waktu.
Duduk di pojokan restoran menengah ke atas itu, sambil memesan paket pizza untuk berdua. Asyik ngobrol ngalur ngidul, tentang sekolahnya, tentang usaha orangtua, tentang teman-teman, tentang gebetan masing-masing (git, jangan marah ya, kalau ang sedang punya gebetan ;P )
Keasikanku agak terusik ketika seorang gadis manis berperawakan kurus berjalan memasuki area pizza hut. Kuperhatikan dia dari jauh. Hmm, sepertinya kenal. Dahiku agak berkernyit melihat rambutnya yang dicat pirang. Kayaknya rambutnya dulu hitam tebal dan indah, dan sering dipotong model bob. Oke, ternyata itu Kenny. Teman lesku di BBC sewaktu aku masih SD dan bersua kembali di SMP di kegiatan pramuka. Kenny dan kedua orangtuanya mengambil tempat duduk di depanku. Oh no, aku sedang malas bersapa-sapa ria. Aku mengalihkan perhatianku keluar jendela, sementara sudut mataku menangkap raut Kenny yang rupanya sedang berpikir mengingat-ingat diriku. Sorry Kenny, not today...
Kadang aku amat sombong, kadang amat ramah. Tergantung suasana hati. Jika sedang sombong, maka aku terlihat seperti tidak mengenal siapapun. Tapi jika sedang ramah, maka aku akan tersenyum dan menyapa setiap orang yang kukenal. Seperti saat itu. Kalau saja aku mau ramah sedikit, aku tahu, pasti akan terjadi percakapan panjang lebar antara aku dan Kenny. Dia anak yang baik hati dan tidak sombong (seperti janji pramuka, ya?). Tapi aku malah memutuskan untuk memasang wajah planga-plongo di hadapannya, persis seperti orang yang seolah berkata, “Siapa sih lu, liat2 gw? Gw cakep ya?” Yaah.. sedikit banyak seperti itulah. Perilaku itu beberapa kali kulakukan. Aku nggak tau, apakah hal ini bagus atau tidak. Karena ketika aku sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu, maka taringku keluar dan secara otomatis akan berlaku begitu. So sorry Kenny.. I promise, next time, when we meet again, i will recognize you and say hello to you..
shafa