Pages

Monday, May 1, 2006

Aku, sang median

Di tengah suara rintik hujan,

Aku merasa terkadang dilahirkan dengan segala sesuatu yang biasa saja. Ibarat berada di titik nol dalam sebuah garis ordinat. Tidak minus, tidak pula plus. Hanya satu hal yang plus banget, alias kelebihanku yang sangat kubanggakan. Aku cerdas. Smart. Hehe..

Oke, kita rinci satu-satu. Wajah, biasa. Aku sudah test case untuk yang ini. Ketika ada satu orang yang bilang aku biasa atau jelek, maka ada satu orang lain yang bilang, "Duh dek.., manis amat?" Yah, walaupun entah ada unsur sinisme atau tidak.
Prestasi, biasa. Ternyata untuk yang ini aku menyetujui orang yang berpendapat bahwa IQ tidak menjamin prestasi seseorang. Akulah buktinya. Hiks.. Trus apalagi ya? Yah, pokoknya secara keseluruhan aku biasa banget.

Tapi lama-lama aku merasa beruntung dengan kondisiku yang biasa-biasa begini. Setidaknya, aku jadi bisa tau isi hati dan pikiran seseorang. Apakah orang itu tulus atau munafik.

Seperti misalnya ketika seseorang tidak menyapaku tetapi kemudian orang itu menyapa seorang gadis yang pastinya lebih cantik dari diriku. Terkadang ada orang yang walaupun sudah mengenalku, tapi ketika bertemu dia tidak berekspresi sewajarnya teman lama. Berbeda dengan ketika dia bertemu dengan gadis cantik yang baru dikenalnya. Well, orang itu munafik.

Atau ketika ada seseorang yang menawarkan bantuan. Aku bisa mengetahui apakah orang itu tulus atau tidak dengan membandingkan ketika orang tersebut memberikan bantuan. Aku punya seorang teman. Hal ini sudah terbukti (ga tau ya kalau ternyata aku salah tarik kesimpulan). Dia cenderung untuk hanya membantu gadis-gadis yang cantik saja. Ada pengalamanku. Ketika aku dan seorang gadis (aku tidak kenal namanya) meminta tolong kepada temanku itu,dia langsung mengabaikan aku dan melayani si gadis dengan sungguh-sungguh dan dengan ekspresi yang meyakinkan. Aku hanya dapat berkata dalam hati, "Alright, gotcha!" dan untuk kemudian aku segan untuk menganggapnya temanku lagi.

Mungkin aku hanya ingin membesarkan hatiku untuk menerima kenyataan yang pahit (hiks.. ga begitu-begitu amat, sih). Tapi at least aku jadi bisa lebih mudah menilai seseorang, lebih bisa mudah menangkap isi pikirannya yang sesungguhnya. Kemudian, jadi bisa lebih berhati-hati ketika jenis-jenis orang yang kuceritakan tadi tiba-tiba jadi baiiikk sekali terhadapku. Pasti ada apa-apanya, kan?

No comments:

Post a Comment