Pages

Tuesday, April 25, 2006

Tentang sebuah kebencian

Pernah tiba-tiba kita jatuh sayang kepada orang yang selama ini kita benci? Yang selama ini kita menaruh dendam kepadanya? Hanya karena justru kita dibenci oleh seseorang? Dan dalam hitungan detik, entah kenapa, kita justru bersimpati kepada orang yang kita benci itu.

Oke, begini. Selama ini aku membenci seseorang (tidak ditunjukkan secara jelas memang) karena tindak tanduknya yang membuatku jatuh bangun di kantor. Lama kemudian, ketika kantor telah mengetahui kemampuanku dan ketika teman-teman sudah mulai menerima keadaanku, diapun berangsur-angsur mengubah sifatnya. Dia jadi baik, perhatian, lemah lembut kepadaku. Entah karena ia sebenarnya memang seperti itu atau karena tindakannya yang menyudutkanku dulu sudah tidak populer lagi di mata teman-teman yang lain. Lalu, kemarin aku mendengar kalau salah satu temanku yang lain yang telah beberapa bulan ini mengundurkan diri dari kantor, ternyata selama ini justru membenciku. Sebagai informasi, sebenarnya aku sudah merasakan hal ini sedari awal aku kenal dengannya. Aku agak shock, karena bingung, aneh, memikirkan apa yang membuat dia membenciku. Aku tidak pernah menyinggungnya, aku tidak pernah menjelek-jelekkan dia, aku tidak merebut ladang penghasilannya, aku tidak pernah tidak tersenyum kepadanya, aku selalu mengagumi kehebatannya dalam networking dan sepak terjangnya di dunia usaha. Lalu apa?

Di situlah, entah kenapa, aku justru kepikiran tentang orang yang pertama kali kuceritakan tadi, yang diam-diam kusimpan kebencian untuknya. Kupikir,apa yang membuatku membenci dia? Toh dia sudah menunjukkan sikapnya yang baik kepadaku. Toh aku sudah mendapatkan kepercayaan dari teman-teman kantor. Dan yang paling penting, toh semua yang dilakukannya sudah berlalu.

Then, what next? Mungkin di malam itu aku mengerti tentang suatu hal. Jika kita sudah menutup hati kita untuk seseorang, maka kita tidak akan mendapatkan kebaikan dari orang tersebut dan maka akan berkurang pulalah rejeki kita berupa kebahagiaan, sesuatu yang tidak dapat kita nilai harganya.

Seperti temanku yang menaruh benci padaku dari awal kenal hingga saat dia mengundurkan diri dari kantor (atau mungkin hingga sekarang? I dont really know and I wish it didn’t). Dia tidak dapat merasakan betapa aku menyayanginya sebagai teman, betapa aku mengaguminya sebagai seseorang yang patut kuteladani. Dalam hal itu, aku merasa dia telah kehilangan setidaknya secuil kebahagiaan yang dapat kuberikan untuknya dan yang semestinya dapat dinikmatinya. Tapi, at least, sampai saat ini, aku tidak pernah ingin membencinya dan hanya ingin memaklumi perasaannya, apapun alasan di balik itu. Positive thinking is always a good choice. Kebahagiaanku satu lagi, aku merasa beruntung tidak memiliki sedikit kebencianpun untuknya.

Jadi, pada malam itu, perasaan cinta dan kasih sayang menyusup secara perlahan dan lembut memenuhi ruang hatiku. Berkaca pada teman yang benci padaku tadi, aku langsung merasa kasihan dan sayang kepada temanku yang sempat kubenci itu dan juga merasa menjadi orang yang merugi di seluruh bumi karena tidak dapat berbahagia dengan kebaikan hati dan perhatian yang telah diberikannya. Dan mulai saat itu, aku berjanji, aku akan membuka hatiku kembali untuknya. Toh, tak akan ada ruginya.

No comments:

Post a Comment